JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal penguatan yang menjanjikan pada perdagangan hari ini.
Investor terlihat semakin optimistis dengan peluang melanjutkan tren positif setelah penguatan sebelumnya. Penguatan ini terjadi meski pasar global sedang menghadapi ketidakpastian tarif dari Amerika Serikat.
IHSG terakhir ditutup menguat 1,5% ke level 8.396 dengan arus beli asing mencapai Rp 1,1 triliun di pasar reguler. Kenaikan ini menegaskan bahwa investor domestik juga memanfaatkan momentum untuk mengakumulasi portofolio. Sentimen positif tercermin dari reaksi pasar yang tetap stabil meski ada wacana tarif global baru sebesar 15%.
Di sisi global, keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif resiprokal memberikan efek positif. Meskipun Presiden Donald Trump sempat menyampaikan rencana tarif baru, pasar merespons dengan optimisme moderat. Hal ini membuat IHSG tetap berpotensi menembus level psikologis berikutnya.
Faktor Domestik Memperkuat Sentimen
Dukungan domestik juga menjadi katalis penting bagi penguatan IHSG. Progres reformasi pasar oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendapat respons positif dari lembaga internasional seperti MSCI dan FTSE. Hal ini meningkatkan kepercayaan investor terhadap kelangsungan pasar modal nasional.
Selain itu, pertumbuhan Money Supply (M2) Indonesia tercatat meningkat 10% YoY pada Januari 2026, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 9,6% YoY. Data ini menunjukkan likuiditas yang tetap terjaga di pasar. Investor menilai hal ini sebagai sinyal stabilitas ekonomi yang mendukung pergerakan saham.
Para analis menyebut, adanya arus likuiditas yang kuat akan membantu saham-saham unggulan mengalami penguatan signifikan. Sentimen domestik yang positif kerap memicu minat beli dari investor lokal maupun asing. Kombinasi ini menciptakan momentum yang mendorong IHSG menuju target baru.
Analisis Teknikal Mengindikasikan Peluang Cuan
Secara teknikal, IHSG masih menunjukkan peluang untuk melanjutkan penguatan menuju area resistance psikologis 8.400–8.500. Hal ini sejalan dengan strategi akumulasi investor yang mulai masuk pada level harga tertentu. Para analis menekankan pentingnya memantau pergerakan indeks harian untuk memanfaatkan peluang trading.
“Secara teknikal, IHSG masih menunjukkan peluang melanjutkan penguatan menuju area resistance psikologis 8.400–8.500,” ujar BRI Danareksa Sekuritas. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa indeks akan terus melaju. Investor disarankan tetap disiplin dalam mengelola risiko meskipun prospek terlihat positif.
Potensi ini didukung oleh kembalinya arus akumulasi investor asing yang sempat tertahan sebelumnya. Arus masuk modal asing mendorong likuiditas pasar meningkat dan saham unggulan menguat. Investor juga mencermati harga komoditas global yang ikut memperkuat sentimen.
Kinerja Bursa Global Berbeda Arah
Pergerakan IHSG terjadi bersamaan dengan kondisi bursa global yang cenderung melemah. Pada perdagangan kemarin, indeks utama Wall Street ditutup di zona merah. Dow Jones Industrial Average turun 1,66% ke level 48.804, S&P 500 melemah 1,04% ke level 6.837,7, dan Nasdaq anjlok 1,13% ke level 22.627,2.
Meskipun pasar AS melemah, investor di Indonesia tetap melihat peluang cuan. Perbedaan arah ini menandakan bahwa pasar domestik memiliki kekuatan tersendiri. Dengan sentimen positif internal, IHSG tetap berpotensi mencatatkan rekor baru.
Investor juga mengamati perkembangan ekonomi global yang fluktuatif. Ketidakpastian tarif dan kebijakan moneter luar negeri dapat memicu volatilitas sementara. Namun, analisis jangka menengah menunjukkan IHSG memiliki daya tahan yang cukup baik.
Saham Andalan Investor untuk Trading
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan tiga saham unggulan sebagai fokus trading. Saham MBMA, BIPI, dan SOCI dinilai memiliki prospek penguatan yang menarik. Investor disarankan memanfaatkan momentum ini untuk akumulasi dengan strategi yang hati-hati.
“MBMA, BIPI, dan SOCI menjadi saham yang menarik untuk dicermati hari ini,” ujar analis BRI Danareksa Sekuritas. Pemilihan saham ini didasarkan pada korelasi positif dengan harga komoditas dan arus masuk modal asing. Strategi ini diharapkan dapat memaksimalkan potensi cuan tanpa mengabaikan manajemen risiko.
Selain itu, investor juga memantau sektor lain yang menunjukkan tren positif. Saham berbasis komoditas dan industri strategis cenderung lebih diminati. Hal ini memberikan peluang diversifikasi portofolio yang lebih aman namun tetap menguntungkan.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik, IHSG diyakini berpeluang melanjutkan penguatan. Investor yang bijak dapat memanfaatkan momentum ini untuk menambah portofolio. Optimisme pasar memberikan sinyal positif bahwa target 8.500 bukan sekadar harapan, tetapi potensi nyata yang dapat dicapai.