Fakta Puasa dan Risiko GERD

Jangan Salah Paham, Ini Fakta Puasa dan Risiko GERD yang Perlu Dipahami

Jangan Salah Paham, Ini Fakta Puasa dan Risiko GERD yang Perlu Dipahami
Jangan Salah Paham, Ini Fakta Puasa dan Risiko GERD yang Perlu Dipahami

JAKARTA - Setiap bulan Ramadan tiba, berbagai anggapan tentang puasa kembali ramai diperbincangkan. 

Sebagian mitos berkembang turun-temurun dan dipercaya tanpa ditelusuri lebih jauh kebenarannya. Padahal, memahami fakta di balik puasa membantu menjalankannya dengan lebih sehat dan bijak.

Mitos Berat Badan Turun atau Justru Naik

Selalu ada saja mitos baru soal berpuasa yang muncul di kalangan masyarakat, saat tiba momen bulan Ramadan setiap tahunnya. Tak heran, sebagai negara dengan mayoritas muslim, puasa Ramadan punya dampak besar bagi perubahan gaya hidup sehari-hari. 

Mulai soal rutinitas kerja, budaya konsumsi ketika berbuka, bahkan perkara hobi, seperti aktivitas fisik berat macam lari atau olahraga permainan, sampai yang butuh konsentrasi prima seperti membaca atau merakit mainan.

Kalau ada teman atau pasangan yang kelebihan berat badan, tapi belakangan ini malas olahraga, malas menunda diet, malas makan sehat, banyak alasan, sampai akhirnya mengandalkan puasa Ramadan sebagai momentumnya menjadi lebih sehat, jangan percaya! Alasan lagi itu. 

Sebab, kalau mau berkaca dari pengalaman masa lalu, rata-rata berat badan seseorang setelah menjalani sebulan puasa Ramadan justru lebih sering naik.

Apalagi buat Sobat dengan tipe badan ideal dan beratnya normal. Memang betul, kalau punya obesitas, puasa Ramadan efektif menurunkan berat badan dan persentase lemak tubuh, salah satunya menurut Effect of Ramadan Fasting on Weight and Body Composition in Healthy Non-Athlete Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis (2019). Namun, penurunan lemak dan berat ini tidak selalu bertahan lama setelah Ramadan selesai.

Menunjukkan bahwa puasa itu sendiri tidak menjamin perubahan tubuh jangka panjang, apabila tanpa perubahan gaya hidup yang berkelanjutan dari si pribadi itu sendiri. Pola makan saat berbuka yang berlebihan justru bisa memicu kenaikan berat badan. Karena itu, pengaturan asupan tetap menjadi kunci utama.

Mitos Konsentrasi Hilang Saat Puasa

Efek puasa terhadap fokus awalnya memang terasa berat karena adaptasi tubuh. Namun, setelah beberapa hari, justru terjadi kestabilan konsentrasi yang lebih baik berkat ritme energi yang lebih teratur. 

Analisis terhadap lebih dari 70 penelitian besar menunjukkan bahwa puasa jangka pendek tidak berpengaruh besar terhadap kinerja kognitif pada orang dewasa pada umumnya.

Paling-paling keinginan belajar yang menurun di sore hari, karena kadar glukosa darah yang turun. Beberapa ulasan akademis menyebut bahwa puasa Ramadan secara teori justru punya kaitan dengan metode melatih otak. Sederhananya, saat puasa, kemampuan kompensasi otak semakin bagus karena melatih dirinya lebih baik.

Sehingga ketika plastisitas otak menurun ketika menua nanti, otak setidaknya punya kinerja lebih baik karena telah terlatih. Selain itu, ada juga hubungannya dengan pergantian pola koneksi saraf alias neuroplastisitas. 

Termasuk pembersihan sel saraf yang rusak alias autophagy, juga peningkatan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) atau protein yang membantu regenerasi saraf, konsentrasi, dan memori.

Mitos Harus Menghindari Olahraga Berat

Ada kesalahpahaman umum bahwa puasa artinya harus menghentikan semua aktivitas fisik secara total. Faktanya, baiknya berolahraga dengan intensitas dan waktu yang disesuaikan, demi menghasilkan manfaat optimal. Terlebih, massa otot bisa melemah, terpengaruh oleh perubahan pola makan.

Oleh karena itu, olahraga dengan gerakan teratur harapannya membantu menjaga massa otot selama Ramadan sekaligus mempertahankan metabolisme. Ada tiga waktu yang bisa dimanfaatkan. Pertama, pagi setelah sahur, tapi intensitasnya ringan dan hindari risiko dehidrasi.

Rutinitas ini membantu peredaran darah dan suplai ke otak. Kedua, sesaat sebelum berbuka bisa menjadi waktu yang baik untuk olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang. Misalnya, jalan cepat atau jogging pendek.

Waktu sekitar 30–60 menit sebelum berbuka ini dapat membantu tubuh membakar lemak lebih efektif karena masih dalam keadaan puasa. Tapi ingat, risiko energi rendah dan dehidrasi meningkat! Terakhir, waktu 1–2 jam setelah berbuka alias setelah tarawih, disebut waktu terbaik untuk latihan intensitas sedang sampai tinggi.

Mulai dari lari 5k, sampai olahraga permainan lapangan seperti badminton, mini soccer, hingga padel, sebab tubuh sudah mendapatkan energi dan cairan cukup. 

Tapi tetap perlu diingat, selama Ramadan, tujuan olahraga bukan untuk mengejar performa atletik puncak, ya. Fokus pada pemeliharaan rutinitas dan niat baik untuk lebih sehat, sejalan upaya lebih spiritual, mendekat kepada Yang Kuasa.

Mitos Puasa Memperparah Maag dan GERD

Percayalah, penyakit terkait lambung tidak otomatis kambuh dan memburuk karena puasa. Justru masalah seperti maag, lebih sering muncul karena polanya tidak teratur, makan tergesa, atau konsumsi makanan atau minuman yang memicu asam berlebih. 

Dalam jurnal efek puasa Ramadan terhadap simptom gastroesophageal reflux disease (GERD), memang bisa terjadi gejala saat puasa, tapi lebih karena jam makan yang bergeser dan jenis makanan yang dikonsumsi.

Puasa bukan factor penyebab langsung sakit maag berat atau GERD. Pada pasien GERD yang secara rutin mengonsumsi obat dan memodifikasi pola makan, puasa Ramadan tidak memperburuk gejala refluks. Penelitian menunjukkan bahwa jika pasien tetap mematuhi anjuran pengobatan dan makan secara teratur saat malam, gejala bisa tetap terkendali.

Artinya, pengaturan pola makan saat sahur dan berbuka menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan lambung. Menghindari makanan pemicu serta tidak makan berlebihan membantu mencegah keluhan kambuh. Dengan pendekatan yang tepat, puasa tetap bisa dijalani dengan nyaman.

Menjalani Puasa dengan Bijak dan Seimbang

Berbagai mitos yang beredar sering kali membuat orang ragu atau salah kaprah dalam menjalankan puasa. Padahal, sebagian besar kekhawatiran tersebut dapat dijawab dengan penyesuaian gaya hidup yang tepat. Keseimbangan antara asupan, aktivitas, dan istirahat menjadi kunci utama.

Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga momentum memperbaiki kebiasaan. Dengan pengelolaan makan yang baik, olahraga teratur, dan pemahaman kondisi tubuh, manfaat kesehatan bisa dirasakan optimal. Kesadaran ini membantu menjalani Ramadan dengan lebih sehat dan penuh makna.

Pada akhirnya, mitos akan terus muncul setiap tahun, tetapi informasi yang benar membantu kita bersikap lebih tenang. Puasa tidak otomatis membuat kurus atau gendut, tidak selalu menghilangkan konsentrasi, dan tidak langsung memperparah gangguan lambung. Dengan pola hidup yang tepat, Ramadan justru menjadi kesempatan memperkuat tubuh sekaligus jiwa.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index