JAKARTA - Bulan Ramadhan menjadi momen istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan adalah i’tikaf di masjid. Dengan memahami syarat dan tata caranya, pahala yang diperoleh akan lebih maksimal dan ibadah terasa lebih bermakna.
I’tikaf bukan hanya sekadar berada di masjid. Aktivitas ini membantu menenangkan hati dan memperdalam kualitas ibadah. Melalui i’tikaf, seseorang bisa lebih fokus berdoa, berdzikir, dan membaca Alquran tanpa gangguan aktivitas duniawi.
Pengertian I’tikaf
Secara bahasa, i’tikaf berarti berdiam diri atau menetap pada suatu tempat. Sedangkan secara istilah, i’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat khusus beribadah kepada Allah. Ibadah ini dianjurkan terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk mengejar malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
Melalui i’tikaf, umat Islam dapat meningkatkan kualitas ibadahnya. Ini menjadi sarana introspeksi diri dan mendekatkan hati pada Allah. Aktivitas yang dilakukan termasuk shalat sunnah, dzikir, doa, dan muhasabah diri.
Syarat I’tikaf di Masjid
I’tikaf hanya sah bagi seorang Muslim yang berakal sehat dan berniat ikhlas. Orang yang junub, wanita haid, atau yang kehilangan kesadaran tidak diperbolehkan melakukan i’tikaf. Niat dilakukan di dalam hati dengan ucapan sederhana seperti, “Nawaitul I'tikaf Lillahi Ta’ala,” yang artinya, “Saya niat i’tikaf karena Allah Ta’ala.”
I’tikaf harus dilaksanakan di masjid, sebaiknya yang rutin menyelenggarakan shalat berjamaah. Memilih masjid yang menjadi pusat shalat Jumat lebih utama menurut sebagian ulama. Kesucian dari hadats besar menjadi syarat penting agar ibadah i’tikaf diterima.
Tata Cara I’tikaf di Masjid
Langkah pertama adalah meluruskan niat dan datang ke masjid dengan tujuan beribadah. I’tikaf bisa dilakukan kapan saja, namun yang utama adalah sepuluh malam terakhir Ramadhan. Biasanya dimulai sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 Ramadhan untuk mengoptimalkan ibadah.
Selama i’tikaf, dianjurkan memperbanyak shalat sunnah, membaca Alquran, berdzikir, dan muhasabah diri. Aktivitas duniawi seperti bermain ponsel atau ngobrol yang tidak perlu sebaiknya dihindari. Orang yang beri’tikaf hanya boleh keluar masjid untuk kebutuhan mendesak, seperti buang hajat, agar fokus ibadah tetap terjaga.
Selain itu, penting menjaga adab di masjid dengan menjaga kebersihan, ketertiban, dan tidak mengganggu jamaah lain. Hal ini membuat i’tikaf lebih khusyuk dan harmonis. Dengan mematuhi tata cara ini, setiap aktivitas ibadah memiliki nilai pahala yang maksimal.
Hal yang Membatalkan dan Hikmah I’tikaf
Beberapa hal dapat membatalkan i’tikaf, seperti keluar dari masjid tanpa kebutuhan syar’i, hilang akal, murtad, atau berhubungan suami istri. Mengetahui hal-hal yang membatalkan ini penting agar ibadah tetap sah.
Melaksanakan i’tikaf memberikan manfaat spiritual yang besar. Ibadah ini membersihkan hati dari kesibukan dunia, meningkatkan kekhusyukan, melatih kesabaran, dan mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, i’tikaf juga menjadi sarana untuk merenungkan kehidupan dan memperbaiki diri secara batiniah.