JAKARTA - Perubahan dinamika atmosfer kembali menjadi perhatian otoritas cuaca nasional pada akhir Februari 2026.
Kondisi ini mendorong peningkatan kewaspadaan masyarakat di berbagai daerah yang diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas tinggi. Informasi resmi ini disampaikan sebagai langkah antisipatif guna meminimalkan dampak yang mungkin timbul.
Peringatan Dini untuk Sejumlah Wilayah
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan pada Kamis, 26 Februari 2026. Lembaga ini mendeteksi potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang akan melanda 11 wilayah di Indonesia akibat dinamika atmosfer. Peringatan tersebut menjadi bagian dari sistem kewaspadaan dini yang rutin diperbarui sesuai perkembangan cuaca.
Prakirawan BMKG, Puji Sibuea, memaparkan kombinasi sistem cuaca memicu pertumbuhan awan hujan di sejumlah provinsi. "Perlu ditingkatkan kesiapsiagaan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di (berbagai) wilayah," ujar Puji dalam siaran BMKG. Peringatan dini ini berlaku untuk wilayah bagian barat hingga timur Indonesia.
Peningkatan intensitas hujan ini merupakan imbas dari pembentukan daerah konvergensi dan konfluensi. Kondisi tersebut berperan dalam memperkuat pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menurunkan hujan deras. Situasi ini dipantau secara berkala guna memastikan akurasi prakiraan.
Puji menjelaskan, BMKG memantau tekanan rendah di Samudra Hindia Barat Daya Lampung. Kondisi ini muncul bersamaan dengan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia Barat Australia bagian utara serta Laut Natuna Utara. Kombinasi faktor tersebut memperbesar peluang terjadinya hujan intensitas tinggi di sejumlah daerah.
Daftar 11 Wilayah Siaga Hujan Lebat
Berdasarkan data BMKG, sistem cuaca berdampak langsung pada 11 wilayah. Berikut daftar provinsi yang berstatus siaga. Status ini diberikan sebagai bentuk peringatan agar pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Jawa Barat. Jawa Tengah. Yogyakarta.
Jawa Timur. Bali. Nusa Tenggara Barat (NTB).
Nusa Tenggara Timur (NTT). Sulawesi Selatan. Papua Tengah.
Papua Pegunungan. Papua Selatan. Seluruh wilayah tersebut diperkirakan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat dalam periode yang telah ditetapkan.
Prakiraan Cuaca Sejumlah Kota Besar
Selain merilis daftar wilayah siaga, BMKG juga memetakan potensi cuaca harian untuk kota-kota besar. BMKG mengimbau warga di Aceh, Jambi, Bengkulu, dan Denpasar untuk mengantisipasi potensi hujan disertai petir. Kondisi ini memerlukan kewaspadaan terutama bagi aktivitas luar ruang.
Sementara itu, hujan intensitas sedang berpeluang mengguyur Makassar, Nabire, Jayawijaya, dan Merauke. Masyarakat di wilayah tersebut diminta menyesuaikan rencana kegiatan dengan perkembangan cuaca. Informasi prakiraan diperbarui secara berkala sesuai dinamika atmosfer.
BMKG memprediksi hujan ringan turun di sebagian besar Sumatera, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Palangkaraya, Tanjung Selor, Mataram, Kupang, Kendari, Mamuju, Manado, Ternate, Ambon, Sorong, Manokwari, dan Jayapura. Intensitas ringan ini tetap berpotensi memengaruhi aktivitas harian masyarakat. Oleh sebab itu, kewaspadaan tetap diperlukan meski risiko relatif lebih rendah.
Sebaliknya, masyarakat di Bandar Lampung, Serang, Jakarta, Bandung, Banjarmasin, Samarinda, Pontianak, Palu, dan Gorontalo mendapati prakiraan cuaca berawan hingga berawan tebal. Kondisi berawan dapat menjadi indikasi potensi hujan pada waktu tertentu. Masyarakat diimbau terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi.
Faktor Dinamika Atmosfer yang Mempengaruhi
Fenomena atmosfer yang terjadi kali ini berkaitan dengan aktivitas sistem tekanan rendah dan sirkulasi siklonik. Interaksi antarsistem tersebut menciptakan area pertemuan massa udara yang memicu pembentukan awan hujan. Situasi ini lazim terjadi pada periode tertentu dan dapat berdampak luas.
Daerah konvergensi dan konfluensi berperan dalam meningkatkan suplai uap air ke atmosfer. Peningkatan kelembapan tersebut mendukung pertumbuhan awan konvektif secara signifikan. Dampaknya terlihat pada peningkatan potensi hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan perkembangan sistem cuaca tetap terkendali. Informasi resmi dari BMKG menjadi rujukan utama bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Dengan kesiapsiagaan yang baik, dampak cuaca ekstrem diharapkan dapat diminimalkan.
Imbauan Kesiapsiagaan bagi Masyarakat
BMKG mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Langkah antisipasi seperti memastikan saluran air tidak tersumbat dan menghindari daerah rawan banjir menjadi bagian dari mitigasi sederhana. Kesadaran kolektif masyarakat sangat dibutuhkan dalam menghadapi dinamika cuaca.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diimbau memperhatikan perubahan cuaca secara cepat. Kondisi hujan lebat dapat disertai petir dan angin kencang yang berpotensi membahayakan. Oleh karena itu, pembaruan informasi cuaca perlu dipantau secara berkala.
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa dinamika atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu. Koordinasi antara lembaga, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Dengan kesiapan yang optimal, risiko yang ditimbulkan dapat ditekan semaksimal mungkin.