Pelabuhan Domestik Ditingkatkan untuk Memperkuat Efisiensi Logistik Nasional

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:30:58 WIB
Pelabuhan Domestik Ditingkatkan untuk Memperkuat Efisiensi Logistik Nasional

JAKARTA - Pelaku usaha logistik menyoroti turunnya produktivitas layanan bongkar muat di sejumlah pelabuhan nasional. 

Keterbatasan fasilitas dan alat bongkar muat menyebabkan antrean kapal semakin panjang dan biaya operasional meningkat. Sekretaris Jenderal ALFI Trismawan Sanjaya mengatakan keluhan ini terjadi hampir di semua pelabuhan domestik.

Menurut Trismawan, kondisi tersebut berdampak langsung pada pengiriman barang. Laporan anggota ALFI di Jawa Tengah dan Jawa Timur menunjukkan keterlambatan saat keberangkatan maupun tiba di tujuan. Molornya jadwal sandar kapal dan rendahnya produktivitas alat bongkar muat menjadi penyebab utama keterlambatan ini.

Aktivitas logistik melalui pelabuhan laut terus meningkat, terutama jalur perdagangan domestik. Trismawan menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan pelabuhan untuk menjaga efisiensi distribusi. Proses pengiriman barang yang efisien akan mengurangi beban biaya yang semakin tinggi bagi konsumen.

Dampak Biaya Logistik dan Utilisasi Armada

Kinerja pelabuhan yang tidak optimal menekan tingkat utilisasi armada logistik, khususnya truk pengangkut barang. Keterlambatan pengiriman menyebabkan okupansi kegiatan usaha menurun, sementara biaya operasional tetap tinggi. 

Trismawan menambahkan ketidakpastian peraturan dan tumpang tindih aturan membuat kinerja pelaku usaha logistik nasional terhambat.

Biaya tinggi dan pelayanan lambat di pelabuhan menjadi kerugian bagi semua pihak terkait. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi rantai pasok nasional sangat bergantung pada layanan pelabuhan yang optimal. Distribusi barang antardaerah dapat terganggu jika produktivitas bongkar muat tidak meningkat.

Produktivitas Bongkar Muat di Pelabuhan Utama Menurun

Keluhan serupa terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menurut Ketua ALFI Jawa Timur, Sebastian Wibisono. Waktu tunggu kapal meningkat karena proses sandar dan bongkar muat memakan waktu lebih lama. Crane yang sudah tua di Terminal Peti Kemas Nilam dan Mirah menjadi salah satu penyebab lambatnya penanganan kontainer.

Kapasitas ideal Container Processing Area mencapai 30 hingga 40 kontainer per jam, namun realisasi hanya sekitar 10 kontainer per jam. Penurunan produktivitas ini signifikan dan memengaruhi kelancaran arus barang di pelabuhan. Dampak ini memperlihatkan perlunya modernisasi alat dan sistem operasional.

Pendangkalan alur pelabuhan juga menjadi kendala, seperti yang terjadi di Pelabuhan Belawan, Medan. Kapal besar mengalami kesulitan bersandar sehingga kapasitas kapal terbatas pada 200 hingga 300 TEUs. Kondisi ini menurunkan efisiensi operasional perusahaan pelayaran dan kapasitas distribusi barang.

Kondisi Pelabuhan Merauke dan Waktu Tunggu Kapal

Pelabuhan Merauke, Papua Selatan, juga mengalami keterlambatan sandar kapal hingga 10–15 hari. Ketua DPC ALFI Merauke, Abi Bakri Alhamid, menjelaskan keterlambatan disebabkan keterbatasan fasilitas depo peti kemas. Barang yang diturunkan dari kapal harus menunggu proses bongkar yang masih menggunakan sistem lama, seperti stripping di dalam pelabuhan.

Menurut Abi, waktu tunggu kapal yang sebelumnya dua hari kini menjadi tiga hingga lima hari. Hal ini membuat total durasi pelayanan kapal mencapai 10 hingga 15 hari. Kondisi ini menyoroti keterbatasan fasilitas dan sistem operasional pelabuhan yang berdampak pada keseluruhan proses logistik.

Upaya Operator Pelabuhan dan Modernisasi Infrastruktur

Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) menilai layanan pelabuhan dipengaruhi kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto menyebut kondisi ini dipengaruhi faktor cuaca dan fasilitas terminal curah. Ia menegaskan bahwa kendala tidak bisa digeneralisasi untuk semua pelabuhan, karena setiap fasilitas memiliki dinamika berbeda.

Pelindo menyatakan layanan bongkar muat di sejumlah terminal peti kemas berjalan sesuai perencanaan. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menekankan bahwa antrean kapal hingga enam hari tidak terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak. 

Penjadwalan kapal dilakukan melalui sistem berthing window dan mempertimbangkan kesiapan fasilitas serta keselamatan operasional.

Perbaikan layanan terus dilakukan, termasuk penambahan peralatan baru dan fasilitas tambahan. TPS Surabaya akan menerima empat unit Quay Container Crane (QCC) dan 14 unit Rubber Tyred Gantry (RTG). TPK Berlian juga akan dilengkapi dua unit QCC pertengahan tahun ini untuk meningkatkan kapasitas pelayanan.

Pelabuhan domestik menjadi simpul penting distribusi nasional yang efisien. Layanan bongkar muat yang optimal menjaga kelancaran rantai pasok dan stabilitas biaya logistik. Operator pelabuhan terus memperbaiki fasilitas dan peralatan agar pelayanan tetap berjalan lancar di seluruh wilayah, dari Belawan hingga Merauke.

Terkini