Update Harga Batu Bara Cetak Rekor Tertinggi Tahunan di Pasar Global

Rabu, 18 Februari 2026 | 10:31:05 WIB
Update Harga Batu Bara Cetak Rekor Tertinggi Tahunan di Pasar Global

JAKARTA - Pergerakan harga batu bara kembali menjadi sorotan ketika komoditas ini melesat melewati capaian tertinggi dalam setahun terakhir. 

Di tengah pelemahan sejumlah harga energi global, batu bara justru menunjukkan ketahanan yang kontras. Situasi ini memunculkan optimisme baru di pasar komoditas energi.

Pada perdagangan, harga batu bara ditutup di posisi US$ 121,05 atau menguat 0,79%. Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif dengan penguatan 4,13% selama empat hari beruntun. Capaian ini menempatkan harga pada level tertinggi sejak 22 Januari 2025.

Kondisi tersebut terbilang luar biasa mengingat harga energi lain, termasuk minyak, sedang mengalami pelemahan tajam. Batu bara justru bergerak berlawanan arah dengan tekanan yang melanda pasar energi global. Momentum ini menunjukkan dinamika unik dalam struktur permintaan dan pasokan komoditas tersebut.

Faktor Penurunan Stok di Pelabuhan China

Persediaan batu bara di pelabuhan utara China tercatat mengalami penurunan. Penurunan ini terutama disebabkan arus keluar stok yang lebih tinggi dibanding arus masuk melalui jalur kereta api selama periode libur Imlek. Ketidakseimbangan tersebut mendorong tekanan pasokan di pusat distribusi utama.

Libur Tahun Baru Imlek 2026 diperkirakan berlangsung sembilan hari, dari 15 hingga 23 Februari 2026. Banyak pelaku pasar menghentikan atau menunda aktivitas sebelum liburan tiba. Kondisi tersebut memperlambat suplai masuk ke pelabuhan.

Salah satu pelabuhan yang terdampak adalah Qinhuangdao, pelabuhan transhipment batu bara terbesar di utara China. Stok batu bara di pelabuhan ini menurun karena permintaan dan pengambilan dari pembeli tetap kuat. Sementara itu, pasokan melalui jalur rel menghadapi kendala.

Tren tersebut menggambarkan pola di mana permintaan dari pembangkit listrik dan sektor industri menghabiskan stok pelabuhan lebih cepat daripada pengisian ulang. Total stok di pelabuhan pun perlahan menyusut meskipun volume masuk masih ada. Ketidakseimbangan ini menjadi faktor utama penguatan harga.

Dalam beberapa minggu sebelumnya, stok batu bara di pelabuhan utara China sudah menunjukkan kecenderungan serupa. Penurunan atau fluktuasi terjadi akibat arus keluar yang kuat dibanding pasokan masuk. Fenomena ini semakin terasa menjelang musim dingin dan libur panjang.

Ketahanan Batu Bara di Tengah Transisi Energi

Selain faktor pasokan, kenaikan harga batu bara juga dipengaruhi persepsi bahwa bahan bakar ini relatif tahan banting. Di tengah ekspansi energi terbarukan, batu bara masih memegang peranan penting dalam sistem kelistrikan. Hal ini menjaga relevansinya di pasar global.

Seiring berkembangnya energi terbarukan, berkurangnya jam operasi pembangkit listrik batu bara dan gas dapat melemahkan basis pendapatan untuk menopang rantai pasok bahan bakar fosil. Namun kondisi tersebut belum sepenuhnya menggeser posisi batu bara. Pembangkit tertentu justru masih memperoleh keuntungan operasional.

Fasilitas pembangkit yang berada di mulut tambang memiliki keunggulan dalam penyimpanan bahan bakar. Selain itu, keandalan saat musim dingin serta kompleksitas infrastruktur yang lebih rendah menjadi nilai tambah. Faktor-faktor tersebut menjaga daya saing batu bara dibanding sumber energi lain.

Dunia tetap membutuhkan pembangkit fosil terutama saat musim dingin ketika hari lebih pendek dan tenaga angin melemah. Dalam situasi tersebut, energi terbarukan tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan beban puncak. Batu bara menjadi penopang stabilitas pasokan listrik.

Pembangkit batu bara juga dinilai memiliki performa operasional lebih baik dibanding gas saat musim dingin. Harga bahan bakarnya relatif lebih stabil sehingga memudahkan perencanaan biaya produksi. Stabilitas ini memberikan kepastian bagi operator pembangkit.

Prospek Jangka Panjang dan Tantangan

Dalam jangka panjang, bahan bakar fosil diproyeksikan tidak lagi dominan sebagai pembangkit beban dasar. Infrastruktur besar yang menopangnya berpotensi menjadi kurang relevan secara ekonomi. Meski demikian, keberadaannya tetap diperlukan sebagai pelengkap energi terbarukan.

Peran batu bara ke depan kemungkinan lebih selektif dan terfokus pada kondisi tertentu. Fleksibilitas dalam mendukung sistem kelistrikan menjadi kunci keberlanjutan komoditas ini. Transisi energi global tidak serta-merta menghapus kebutuhan terhadap sumber energi konvensional.

Kenaikan harga yang terjadi saat ini mencerminkan kombinasi faktor musiman dan struktural. Penurunan stok, permintaan yang tetap kuat, serta peran strategis saat musim dingin menjadi pendorong utama. Selama faktor-faktor tersebut bertahan, harga batu bara berpotensi tetap solid di tengah dinamika pasar energi global.

Terkini